Senin, 07 Mei 2012

SMK Kristen Blora Terima ISO 9001:2008

SMK Kristen Blora Terima ISO 9001:2008
ISO 9001:2008
Blora - SMK Kristen Blora menerima sertifikat Sistem Manajemen Mutu atau yang di kenal dengan sertifikat ISO 9001:2008. Penyerahan Sertifikat ISO tersebut dilakukan langsung dari PT. Tuv Rheinland yang berpusat di Jerman, kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Blora Adi Purwanto yang selanjutnya diserahkan kepada Kepala SMK Kristen Blora Ema Rumayanti, di Kampus SMK Kristen Blora, kemarin.
Dalam kesempatan itu, dihadiri pula Ketua DPRD Blora HM Kusnanto yang merupakan alumnus SMK Kristen .
Adi Purwanto menyambut baik diperolehnya ISO 9001:2008 yang merupakan cerminan bahwa sekolah sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, dalam semua hal penyelenggaraan pendidikan.
Sekaligus menjadi bukti kalau sekolah tersebut telah mencapai visi dan misi yang di canangkan oleh semua pelaku pendidikan di SMK Kristen Blora.
"Setelah menerima sertifikat ISO ini harus bisa lebih baik dari sebelumnya, maka harus bisa lebih baik dari sebelumnya, maka harus bisa lulus 100 persen nantinya," ujar Adi Purwanto.
Menurut Adi, mendapat sertifikat ini hendaknya bukan sebagai tujuan akhir, namun tantangan bagi lembaga sekolah, terlebih sekolah swasta, maka pelayanan harus menjadi pilihan yang utama sekaligus semakin meningkatkan kualitas pendidikan yang ada.
"Harus ada sesuatu yang dibanggakan sehingga menjadi pillihan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di SMK ini,"pesan Adi Purwanto.(gie-40)

artikel tentang SMK Kristen Blora Terima ISO 9001:2008 dari : Suara Muria,senin tanggal 7 Mei 2012

Fakta Unik dari Blora

Fakta Unik dari Blora
homo soloensis
Potensi dan Penelitian Arkeologi Daerah Blora
Blora sebagai salah satu sasaran penelitian arkeologi sudah berjalan sejak tahun 1970 an. Walaupun penelitian arkeologi telah sering dilakukan , akan tetepi masih bersifat parsial dan hasil antara penelitian yang satu dengan yang lain belum terintegrasikan dalam satu tujuan yang terkait dengan upaya pengembangannya. Dari kegiatan survey dapat diketahui adanya beberapa tabel yang memuat potensi sumber daya arkeologi dalam berbagai jenis karakteristiknya antara lain kondisi kebutuhan material, keterawatan, dan keterancaman dari suatu bahaya. Dari hasil survey tersebut akan dapat dinilai atau di bobot situs2 atau potensi sumber daya arkeologi yang mendesak untuk ditangani, kurang mendesak untuk dikelola lebih lanjut, ataupun situs2 yang perlu mendapatkan perhatian.

Fakta Unik dari Blora
Pusat penelian dan pengmbangan arkeologi nasional menetapkan kabupaten blora sebagai kawasan studi purba. Pasalnya sejumlah arkeolog banyak menemukan fosil2 dan peninggalan manusia purba di bekas endapan sungai bengawan solo purba. Penetapan ini sendiri dilakukan dalam seminar pengelolaan cagar budaya di blora pada 9 desember 2008. Peneliti senior pusat penelitian dan pengembangan arkeologi nasional. Prof. Truman Simanjuntak mengatakan blora memiliki sejarah hunian yang sangat panjang. Sejumlah arkeolog yang mengadakan penelitian di blora dapat menemukan dan mempelajari evolusi lingkungan, manusia dan budaya. Hal ini di buktikan dengan penemuan fosil manusia purba yang terakhir. homo soloensis di ngandong kecamatan kradenan blora.

Fakta Unik dari Blora
Berdasarkan kajian pusat penelitian dan pengembangan arkeologi nasional, di sepanjang daerah aliran sungai bengawan solo di blora terdapat 16 teras endapan yang membentang di kecamatan kradenen, kedungtuban dan cepu. Salah satunya adalah teras ngandong. Tinggi teras ini sekitar 28 m dari sungai bengawan solo sekarang. Kawasan itu menjadi pusat penelitian arkeologi sejak 1931, yang dirintis tim survey geologi belanda Ter har Oppenoorth Koenigwald. Tim itu menemukan 11 tengkorak dan dua tibia atau tulang kering. Pada 1977 sejumlah arkeolog dari balai arkeolog yokyakarta melanjutkan penelitian di kawasan blora bagian selatan itu. Semula mereka memfokuskan penelitian di dusun jigar desa mendenrejo kecamatan kredenan dengan luas area penelitian sekitar 2.500 m2. 

Fakta Unik dari Blora
Mereka menemukan sumber daya arkeologi seperti fosil2 binatang purba seperti yang ditemukan di situs sangiran misalnya fosil gajah, rusa, kura2 dan kerbau. Pada saat itulah sejumlah erkeolog itu menyatakan lokasi temuan itu merupakan endapan sungai purba karena letaknya tidak jauh dari sungai bengawan solo purba karena letaknya tidak jauh dari sungai bengawan solo sekarang ini. Pada tahun2 selanjutnya hingga sekarang sejumlah arkeolog menemukan artefak2 zaman klasik dan perkembangan kerajaan2 hindhu buddha. Misalnya pada 1997 arkeolog menemukan sisa2 candi bata di desa kamolan kecamatan blora dan pada tahun 2008 pelataran berundak di desa sentono kecamatan kradenan.

sumber artikel Fakta Unik dari Blora : buku 1 ensiklopedia blora ( alam, budaya dan manusia )

Spektakuler di Blora di Temukan Fosil Gajah Lengkap !!!

Spektakuler di Blora di Temukan Fosil Gajah Lengkap !!!
bengawan solo
Potensi Paleontologi di Daerah Blora
Paleontologi merupakan salah satu cabang yang mempelajari sejarah kehidupan di bumi pada masa lampau ( purba ) melalui rekaman kehidupan berupa fosil, termasuk mempelajari evolusi dan interaksi kehidupan beserta lingkungannya. Ilmu Paleontologi merupakan interaksi antara geologi dengan biologi, di sampiing juga mempunyai kaitan erat dengan Arkeologi, khususnya menyangkut kehidupan manusia purba. Paleontologi Vertebrata, mempelajari fosil hewan bertulang belakang, dari ikan, amfibi, reptilia, burung hingga mamalia, termasuk manusia purba. Paleontologi Invertebrata, tentang fosiil hewan tak bertulang belakang, seperti moluska, antropoda, ekinodermata, foraminafera dan koral.

Fosil Vertebrata, termasuk fosil manusia purba banyak ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lokasi keterpadatan fosil vertebrata, khususnya di daerah sepanjang aliran sungai Bengawan Solo, antara lain : Patiayam ( Pati ), Sangiran, Sambungmacan ( Madiun ), Punung, Sampung, Wajak ( Pacitan ), dan Perning Mojokerto. Lokasi fosil vertebrata di Blora, antara lain terletak di desa Ngandong Kradenan Blora. Fosil Vertebrata di Daerah ini pertama kali ditemukan tahun 1931 oleh C. ter Haar dari Diens Van Den Mijnbouw ( sekarang badan geologi ) ketika melakukan penelitian geologi di daerah ini. Dilanjutkan ekskavasi pada 1931 - 1933 yang berhasil mengumpulkan ribuan fragmen fosil vertebrata, termasuk 11 tengkorak dan 2 tulang kaki (tibia) manusia purba yang dinamakan Homo (Javantropus) soloensis oleh w.w.f oppenoorth (1932) yang lalu dikenal sebagai "manusia solo". Di kalangan para ahli paleontologi, Solo Man disebut Homo erectus soloensis.

Di Megeri, sejak tahun 2004, tim riset vertebrata badan geologi  mulai melakukan penelitian di daerah blora dengan fokus penelitian endapan teras bengawan solo. Penelitian ini berhasil menemukan lokasi yang kaya kandungan fragmen fosil vertebrata di bekas penggalian pasir di dusun sembungan, desa megeri kecmatan kradenan. Berhasil mengumpulkan ratusan fragmen fosil kerbau, banteng, gajah dan rusa. Salah satu temuan yang langka adalah fosil tengkorak harimau yang hampir lengkap, jenis panthera tigris soloensis. Di medalem dalam penelitian tahun 2006, di bekas galian pasir di dusun sunggun, desa medalem kecamatan kradenan diperoleh indikasi adanya fosil vertebreta. 
 Spektakuler di Blora di Temukan Fosil Gajah Lengkap !!!Selanjutnya pada 23 Maret 2009 dilakukan penggalian uji (test pit) ditemukan kerangka hampir lengkap dari seekor gajah. Temuan termasuk spektakuler karena sejak dimulainya penelitian fosil vertebrata di indonesia tahun 1850 an ( 150 tahun lalu ) baru sekarang ditemukan satu individu  lengkap fosil gajah. Dari berbagai tulang belulang yang di peroleh dapat di pastikan gajah ini termasuk dalam genus elephas, sedangkan spesiesnya di duga termasuk elephas hysudrintics, tetapi lebih primitif.
artikel tentang Spektakuler di Blora di Temukan Fosil Gajah Lengkap !!! ini bersumber dari buku ensiklopedia blora (alam, budaya dan manusia) buku 1

Minggu, 06 Mei 2012

contack

Jika Anda Tertarik Hubungi email di bawah ini
 @mail : bangdoel38@gmail.com

Kamis, 03 Mei 2012

Penyerahan Piala Hardiknas oleh Bupati Blora

Penyerahan Piala Hardiknas oleh Bupati Blora
Blora - Peringatan Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ) di gelar di halaman Kantor Pemkab Blora dalam Upacara Bendera, kemarin. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan penyerahan piala dan hadiah oleh Bupati Blora Djoko Nugroho kepada para siswa yang memenangkan lomba.
Mereka antara lain :
  • Kingkin Prabawati dari SD Katholik Santo Luis, Cepu sebagai juara 1 lomba menyanyi tunggal. 
  • Febriyanti Diah dari SDN Tempelan Blora juara 1 lomba pidato bahasa Indonesia.
  • M. Galih kusumo dari SDN Tempelan Blora sebagai juara 1 lomba cerita bergambar.
  • David suherman Cs SDN 1 Sambong sebagai juara 1 lomba seni tarian daerah. 
  • Salma Fais Arifani dari SDN 2 Sidorejo, Kedungtuban sebagai juara 1 lomba seni kriya anyaman
  • Nadis Diptya W dari SDN Tempelan sebagai juara 1 lomba seni lukisan
  • Retno Ayu Tri Astuti, SDN 6 jepon juara 1 lomba Cipta Puisi
  • Yesi Ruwina SDN Ngawenombo Kunduran sebagai juara 1 lomba membatik
Sementara untuk tingkat SMA, hadiah diserahkan kepada :
  • Ahmad Sugito dan Elza Monica dari SMAN 1 Ngawen sebagai juara 1 lomba Tari Kreasi Berpasangan
  • Atik Galuh dan Imam dari SMKN 1 Cepu sebagai juara 1 lomba Tari kreasi berpasangan
  • Yulanda K Pradeni cs juara 1 lomba drama
  • Herlina Dini Nugraheni dan Galang Nur Puji Pamungkas SMAN 1 cepu juara 1 lomba Cipta dan baca puisi SMA
  • Fenera Zara Felustra dari SMAN 1 Blora sebagai Juara II Lomba Kriya/keterampilan siswa SMA tingkat Jateng
  • dan Fahmi Yukha S dari SMAN 1 Blora juara II lomba poster SMA tingkat Jateng
Penyerahan Piala Hardiknas oleh Bupati Blora ini bersumber dari Suara Muria Kamis 3 Mei 2012.

Rabu, 02 Mei 2012

Silsilah dan Bupati Blora

Silsilah dan Bupati Blora
1)RMT. Tjokro nagoro III dan Istri 2)RMT. Tjokronagoro III dan saudaranya 3)RMT. Tjokro Nagoro Tahun 1862 4)RMT. Tjokro nagoro III
1)RMT. Tjokro nagoro III dan Istri 2)RMT. Tjokronagoro III dan saudaranya 3)RMT. Tjokro Nagoro Tahun 1862 4)RMT. Tjokro nagoro III
Maaf kalau foto kurang jelas( dari buku fotocopian kamera 2 MP )
Di postingan sebelumnya telah saya bagikan sedikit gambaran umum tentang Blora. Kali ini saya akan menyalin dari sumber yang sama tentang Silsilah dan Bupati Blora.
Melalui perjalanan sejarah yang panjang, Blora mulai berubah statusnya yaitu dari daerah apanage menjadi daerah kabupaten. Perubahan itu terjadi pada hari Kamis Kliwon, tanggal 1 Sura tahun Alib 1675 menurut perhitungan tahun jawa, atau tanggal 11 Desember 1749 M. Sejak saat itudapat dikatakan, bahwa Blora lahir sebagai kabupaten. Adapun Bupati pertamanya adalah Wilatikta. Akan tetapi setelah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, Tumenggung Wilatikta melepaskan jabatannya sebagai bupati karena ia tidak mau menjadi bawahan Kasunanan Surakarta. Setelah itu di Kabupaten Blora terjadi kekosongan Jabatan Bupati. Pada tahun 1762, kekosongan jabatan bupati itu diisi kembali. Pengisian jabatan itu bermula dari adanya perselisihan keluarga di Kasunanan Surakarta ( Istana )yang akhirnya berkembang ke daerah Blora.
Latar belakang yang dilakukan Tumenggung Wilatikta melepaskan diri dari jabatan Bupati Blora, di duga karena ia tak mau bekerja sama dengan pemerintah penjajah Belanda. Konon pemerintahan Mataram di bawah Mangkubumi dikenal tidak menyukai kerjasama dengan Belanda. Lain dengan Kasunanan yang mau bekerjasama dengan Belanda. Menilik tindakan Wilatikta dapat dikatakan ia adalah seorang figur Bupati Blora pertama, yang tidak sudi bekerjasama dengan penjajah Belanda.

Silsilah dan Bupati Blora dari berdiri sampai sebelum kemerdekaan adalah :
  1. Tumenggung Wilatikta ( 1749-1755 )
  2. RT. Djayeng Tirtonoto ( 1762-1782 )
  3. RT. Tirtokusumo ( 1782-1812 )
  4. RT. Prawiro Yudho (1812-1823 )
  5. RT. Tirto Nagoro ( 1823-1842 )
  6. RT. Aryo Cokronagoro I ( 1842 )
  7. RT. Tirto Nagoro ( 1843-1847 )
  8. RT. Panji Noto Nagoro ( 1847-1857 )
  9. RT. Tjokro Nagoro II ( 1873-1886 )
  10. RMT. Tjokro Nagoro III ( 1986-1912 )
  11. RM. Said Abdulkadir Jaelani ( 1912-1926 )
  12. RM. Tjakraningrat ( 1926-1938 )
  13. R. Muryono Joyodigdo ( 1938-1942 )
  14. RM. Sudjono ( 1942-1945 )
Secara resmi Pembentukan Kabupaten Blora didasarkan pada Undang - undang No. 13/1950 tanggal 8 Agustus 1950 tentang Pembentukan Daerah Kabupaten di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Bupati Blora dari 1945-2010 adalah :
  1. Mr. Iskandar ( 1945-1948 )
  2. R. Wibisono ( 1948-1949 )
  3. R. Siswadi Joyosurono ( 1949-1952 )
  4. R. Sudjono ( 1952-1957 )
  5. R. Sunartyo ( 1957-1960 )
  6. R. Sukirno Sastro Dimejo ( 1960-1967 )
  7. Srinardi ( 1967-1973 )
  8. Supadhi Yudhodarmo ( 1973-1979 )
  9. H. Soemarno ( 1979-1989 )
  10. H. Soekardi Hardjoprawiro, MBA.MM ( 1989 -1999 )
  11. Ir. Basuki Widodo ( 2000-2007 )
  12. Drs. RM. Yudi Sancoyo, MM ( 2007-2010 )
  13. Joko Nugroho ( 2010 -..........)
demikian Silsilah dan Bupati Blora yang bersumber dari Buku 1 Ensiklopedia Blora ( Alam, Budaya dan Manusia ). Semoga bermanfaat dan menambah wawasan generasi muda Blora Khususnya.

ENSIKLOPEDIA BLORA

ENSIKLOPEDIA BLORA
Sejarah Blora dari Masa Ke Masa
ENSIKLOPEDIA BLORA
Ulang Tahun BloraSejarah Blora terentang panjang sejak masa prasejarah hingga era modern ini. Terbukti daerah ini banyak menyimpan benda cagar budaya yang ditemukan oleh masyarakat serta hasil dari penyisiran geologi. Mulai dari fosil kepala kerbau, kuburan batu,arca Ganesha, genteng buatan tahun 1910, sampai peninggalan masa kolonial berupa senapan VOC, lubang ventilasi, hingga klise foto yang berbahan kaca. Berdasarkan temuan tersebut, benda cagar budaya dapat dibagi dalam lima masa yakni :
  1. masa prasejarah
  2. masa pengaruh hindhu budha
  3. masa pengaruh islam
  4. masa kolonial
  5. masa pasca kemerdekaan
ENSIKLOPEDIA BLORA- Cagar Budaya Blora pada masa prasejarah
Peninggalan masa prasejarah ditemukan fosil kepala kerbau di Desa Mendenrejo, Kecamatan Kredenan. Penemuan lain di Desa Jiken, Kecamatan Jiken berupa batu bulat berdiameter 20 cm berbahan batu lokal. Diperkirakan batu tersebut, dipakai untuk berburu binatang. Bola diikatkan pada tali, kemudian dilempar ke kaki binatang. Di Kecamatan yang sama, di Desa Bleboh, ditemukan kubur peti batu di hutan jati daerah setempat. Kubur peti batu tersebut merupakan salah satu bangunan Megalitikum, yang muncul pada masa perundagian pada sekitar 500 SM. Didirikannya bangunan pada masa megalitikum menunjukkan, bahwa daerah tersebut merupakan pusat pemujaan yang memiliki kekuatan supranatural.

Ketika itu, Eugine Dubois tidak berhasil mengumpullkan fosil pithecantropus secara utuh, melainkan hanya tempurung tengkorak, tulang paha atas dan tiga giginya saja. Dan sampai saat ini belum ditemukan bukti yang jelas bahwa ketiga tulang tersebut berasal dari spesies yang sama. Sebuah laporan berisi 342 halaman di tulis pada waktu itu tentang keraguan validitas penemuan tersebut. Meskipun demikian manusia jawa masih dapat di temuukan di buku2 pelajaran saat ini. Fosil yang lebih lengkap kemudian ditemukan di Desa Ngandong, desa di Blora selatan ( yang lebih sering di anggap sebagai wilayah ngawi ). Fosil berupa tempurung tengkorak manusia ini di temukan oleh Gustav Heinrich Ralph Von Koenigwald, seorang ahli paleontologi dari Berlin, pada tahun 1936. Sampai temuan manusia yang lebih tua lainnya ditemukan di Great Rift Valley, Kenya, temuan Dubois dan Koenigswald merupakan manusia tertua yang diketahui. Temuan ini juga dijadikan rujukan untuk mendukung teori Evolusi Charles Darwin dan Alfred russel Wallace. Banyak Ilmuwan saat itu juga mengajukan teori bahwa manusia jawa mungkin merupakan mata rantai yang hilang antara manusia kera dan manusia modern saat ini. Saat ini, antropolog bersepakat bahwa leluhur manusia saat ini adalah Homo Erectus yang hidup di Afrika ( sekarang dianggap sebagai spesies tersendiri Homo Ergaster ).

ENSIKLOPEDIA BLORA- Cagar Budaya Blora pada masa pengaruh Hindhu Budha
Blora juga menyimpan situs masa Hindu Budha berupa arca Ganesha, Siwa Mahadewa, Agastya, Nandiswaradan arca lain yang ditemukan di Kecamatan Blora sulit diidentifikasi karena sudah aus. Tumpukan batu bata kuno dan dua antefik atau hiasan pada atap yang berasal dari tanah liat  bakar di temukan di Kuwung, Desa Mendenrejo, Kecamatan Kradenan. penemuan Antefik tersebut menunjukkan, bahwa dahulu ada bangunan candi di daerah itu dengan lokasi daerah yang relatif tinggi. di Desa bandungrejo, Kecamatan Ngawen juga ditemukan lumpang batu yang berfungsi untuk menumbuk biji-bijian sekaligus sebagai benda religi. Menurut cerita, nama Blora berasal dari kata belor (lumpur) yang berkembang menjadi mbeloran. Ada juga yang melihat dari kata wai ( air ) yang lorah ( jurang/dataran rendah ), sehingga disebut wailorah atau bailorah yang kemudian berkembang menjadi balora atau Blora. hari jadi kabupaten ini pada 11 Desember 1749. Wilayah yang di dominasi oleh hutan jati ini tidak pernah lepas dari konflik kepentingan dari zaman ke zaman. Sejak zaman kerajaan demak, Mataram hingga sekarang wilayah ini menjadi primadona karena hasil buminya.

ENSIKLOPEDIA BLORA- Cagar Budaya Blora pada masa pengaruh Islam
Pada masa pengaruh islam, juga ditemukan kitab tafsir Jalalain, kitab Ushul dan kitab Ushul Fiqh seluruhnya tulisan tangan dan saat ini kitab2 tersebut berada di museum mahameru Blora. 

ENSIKLOPEDIA BLORA- Cagar Budaya Blora pada masa Kolonial
Pada masa pengaruh Kolonial, di Blora ditemukan Peples Tentara, senapan VOC,lubang ventilasi,radio,klise foto berbahan kaca, piring KNIL dan filter air yang ditemukan di Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora. Alat tersebut dibuat di Inggris dan diperkirakan berasal dari awal abad ke-19. Di desa Kunden juga ditemukan pot bunga yang terbuat dari keramik yang di perkirakan di buat pada masa dinasti Ming1368-1643 M. Sejumlah benda bersejarah lainnya juga dapat ditemukan di Kabupaten Blora seperti makan Sunan janjang yang terletak di desa janjang kecamatan Jiken. Bentuk makam dan nisannya secara keseluruhan termasuk bahan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinngi. Peninggalan Belanda sampai sekarang juga masih dapat disaksikan langsung, yakni stasiun Kereta api dan lokomotif di kecamatan Cepu. jalur pertama Semarang - Kedungjati diresmikan tahun 1871.

ENSIKLOPEDIA BLORA- Cagar Budaya Blora pada masa Era modern
Dalam sejarah modern nya, Blora juga mencatat suatu konflik menarik. Tokoh Samin Surosentiko memusingkan pihak berwenang Hindia Belanda di awal abad ke-20 melalui ajaran2 perlawanan tanpa kekerasan, diantaranya :
*Menolak Membayar Pajak*
Ia mulai mengembangkan dan menyebarkan ajarannya pada tahun 1890 di Desa Klopoduwur. Banyak orang desa di wilayah sekitarnya, antara lain dari Tapelan datang berguru. Pemerintah Kolonial saat itu belum tertarik karena merebaknya kepercayaan yang mengakibatkan berkumpulnya orang itu belum dianggap mengganggu keamanan. Pada 8 November 1907, Ki Samin di angkat oleh pengikutnya menjadi Ratu Adil dengan gelar Panembahan Suryangalam. Empat puluh hari kemudian ndara seten ( Asisten Wedana, Camat ) Randublatung, raden Pranala menangkap dan menahannya di bekas tobong (tempat pembakaran batu gamping ). Ia kemudian dibawa ke Rembang, diinterogasi dan bersama delapan pengikutnya dibuang ke luar Jawa, tepatnya di Sumatra, dengan tuduhan penghasutan dan pendurhakaan ( sedition )

Kasus sejarah lain adalah kasus "Dukun Sakti" Mbah Suro di perbatasan Blora-Bojonegoro pada 1967. Peristiwa yang berakhir dengan berdarah2, termasuk tewasnya mbah Suro, dan di tahannya ratusan orang itu sempat menggegerkan Tanah Air. 

Selain Konflik, Blora dan Bojonegoro sering disebut sebagai " daerah paling miskin di jawa " Ini sebenarnya adalah Ironi, karena sebenarnya daerah tersebut kaya sumber daya alam. Dalam buku The History of Java ( 1817 ), Sir Thomas Raffles pun mengakui betapa daerah Blora, Rembang dan Bojonegoro adalah daerah penghasil kayu terbaik di dunia.
Cerita tentang kraton Solo dan Yokyakarta yang menggunakan kayu jati terbaik dari Blora juga sudah banyak di ketahui. Kuatnya pengaruh kedua Kraton pecahan Mataram tersebut, tercermin di makam Bupati Blora Tempoe Doeloe di Ngadipurwo, yang kawasannya menjadi dua kawasan.
 Hal lain yang perlu di catat adalah :
  1.  waktu mataram di perintah Panembahan Senopati ( 1586-1601 ), Blora termasuk wilayah Mataram Bagian Timur yang disebut daerah Bang Wetan.
  2.  Pada waktu masa Raja Sultan Agung (1613-1645) mengadakan pembagian wilayah, Blora termasuk wilayah mancanegara Timur. 
  3. Pada masa Pemerintahan Paku Buwono I (1740-1719) daerah Blora diberikan kepada putranya Pangeran Blitar sebagai Apanage dan diberi gelar Adipati.
  4. Pada waktu Mataram dibawah paku Buwono II (1727-1749), terjadilah perlawanan Mas Said dan Mangkubumi, pada saat itu paku Buwono II di bantu oleh kompeni. Mangkubumi berhasil menguasai Sukowati, Grobogan, Demak, Blora dan Yokyakarta.Mangkubumi kemudian diangkat oleh rakyatnya menjadi Raja di Yokyakarta. Menurut buku Kutharama pengangkatannya terjadi pada hari jumat legi 1 Sura tahun Alib 1675 ataau tanggal 11 desember 1749. Bersamaan naik tahtahnya Mangkubumi diadakan pengangkatan pejabat termasuk pengangkatan Wilatikta menjadi Bupati Blora dengan pangkat Tumenggung. Berdasarkan sejarah tersebut maka pengangkatan Wilatikta menjadi Bupati Blora dengan pangkat Tumenggung Perang Mangkubumi pada tanggal 11 Desember 1749 atau bertepatan dengan 2 Suro tahun Alib 1675 dijadikan hari jadi kota Blora.
demikian sedikit gambaran BLORA yang bersumber dari buku 1 Ensiklopedia Blora ( alam, budaya dan manusia ), semoga bermanfaat dan di pergunakan seperlunya.